Wednesday, October 2, 2019

nuzulul-qur’an


 PROSES TURUNNYA AL-QUR’AN

Makalah Mata Kuliah
Studi Al-Qur'an



Dosen: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen: Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I

Disusun oleh:
Ria Fidatul Mas Ulah
B75219074


PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019



KATA PENGANTAR

Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena rahmat dan hidayah-Nya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Tanpa pertolongan-Nya, kami tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Tujuan pembuatan makalah ini sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Al-Qur’an, dan dalam makalah ini akan dibahas tentang proses turunnya Al-Qur’an.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen mata kuliah Studi Al-Qur’an, Ibu Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Terima kasih juga saya ucapkan kepada seluruh pihak yang membantu selama proses pembuatan makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Saran dan kritik yang membangun senantiasa saya harapkan demi perbaikan makalah ini di masa mendatang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

                                                                                             Sidoarjo, Agustus 2019

                                                                                                  


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................ii
BAB I  
KITAB SUCI AL-QUR’AN........................................................................1
BAB II
PROSES TURUNNYA AL-QUR’AN
A.    Macam-macam Cara Al-Qur’an Turun.......................................3
B.     Proses Turun Sekaligus dan Berangsur.......................................5
C.     Hikmah Al-Qur’an Turun secara Berangsur..............................16
BAB III
KESIMPULAN...........................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................21






BAB I

KITAB SUCI AL-QUR’AN


Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasul kita Muhammad, Sebagai sebuah kitab suci, memuat petunjuk dan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh manusia yang hidup di dunia ini, untuk petunjuk dan informasi, agar manusia tidak melakukan dan menuju pada lembah-lembah dosa. Bisa membimbing mereka pada jalan yang baik, memberikan informasi yang baik untuk hidup mereka sendiri, yang bisa menghantarkan pada hawa kesejukan kelak di akhirat.
Al-Qur’an dijadikan pedoman hidup untuk manusia, dijadikan petunjuk untuk manusia hingga datangnya hari kiamat, dijadikan pokok-pokok ajaran yang berguna dalam menjalani kehidupan. Karena sejatinya kehidupan itu datang dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
Turunnya Al-Qur’an pertama kali pada malam Lailatul Qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan umat Muhammad. Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan risalah baru agar menjadi umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia.
 Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam, dan jika membacanya merupakan ibadah. Al-Qur’an terdiri dari 30 juz atau 114 surah yang terdiri dari 6.263 ayat yang dimulai dari Suah Al-Fatihah sebagai surah pertama dan An-Nas adalah sebagai surah terakhir. Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang dijamin oleh Allah kemurniannya sampai hari kiamat nanti.[1]




BAB II

PROSES TURUNNYA AL-QUR’AN


A.    Macam-Macam Cara Al-Qur’an Turun

            Kalam Allah itu diturunkan kepada Nabi-Nya, misalnya Nabi Musa a.s dengan kitab Taurat, Nabi Dawud a.s dengan kitab Zabur, Nabi Isa a.s dengan kitab injil, dan Nabi besar kita, Nabi Muhammad SAW dengan kitab Al-Qur’an.
Allah menurunkan Al-Qur’an  kepada Rasul kita Muhammad SAW untuk menunjuki umat manusia. Turunnya Al-Qur’an itu pula juga merupakan berita yang menakjubkan, dikumandangkan ditempatnya kepada penghuni bumi dan langit. Adapula segi penurunnya Al-Qur’an, yakni sebagai berikut:[2]

1.      Macam-Macam cara Al-Qur’an Turun dari Allah
a.       Melalui mimpi
Wahyu yang turun ketika Nabi sedang tidur oleh sebagian ulama dinilai sebagai ‘persiapan’ sebelum beliau menerima wahyu dalam keadaan sadar. ‘Aisyah ra. Pernah mengatakan bahwa mula-mula yang terjadi pada Nabi adalah mimpi yang nyata ketika beliau tidur, misalnya ketika turun wahyu surah Al-Kautsar ayat 1-3.

b.      Melalui suara lonceng yang sangat keras
Wahyu yang turun dalam wujud suara lonceng memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap kesadaran Nabi Muhammad. Apabila wahyu turun melalui cara ini beliau akan mencurahkan segenap kesadaran untuk menerimanya.

c.       Melalui malaikat yang menjelma menjadi seorang laki-laki
Turunnya wahyu melalui cara ini jauh lebih mudah diterima oleh Nabi, karena pada saat itu malaikat Jibril menyamar sebagai seorang laki-laki yang memakai jubah putih. Nabi sudah mengerahkan tenaga dan konsentrasinya untuk memahami wahyu yang diberikan malaikat Jibril. Diceritakan bahwa ketika wahyu ini turun, kening Rasulullah tampak berkeringat.[3]



B.      Proses Turun Sekaligus dan Berangsur-angsur

وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا
“Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” QS Al-Isra’[17]: 106
Kitab suci Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur dalam dua periode, Makkah dan Madinah. Periode Makkah dimulai pada tanggal 18 Ramadhan tahun 41 dari Milad Nabi sampai Rabi’al Awwal tahun 54 dari Milad Nabi (12 tahun 5 bulan 13 hari). Sedangkan periode Madinah dimulai tanggal 1 Robi’al Awwal tahun 54 sampai dengan 9 Zulhijjah tahun 63 dari Milad Nabi, atau bertepatan dengan tahun ke-10 dari hijrah (9 tahun 9 bulan 9 hari). Jadi total lama kedua periode tersebut adalah 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, atau dibulatkan menjadi 23 tahun.[4]
Beberapa ayat Al-Qur’an menetapkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan.
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia (QS Al-Baqarah [02] : 185)
Beberapa ayat lain menetapkan bahwa Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa kira-kira 23 tahun: Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. Al-Isra’[17]: 106).
Sementara itu kita juga mengetahui bahwa Rasul Al-Amin saw, diutus dengan membawa risalah pada tanggal 27, bulan Rajab.[5]

1.      Tanda-Tanda Surah atau Ayat-Ayat Makiyah
a.  Surah atau ayat-ayatnya pendek-pendek.
b. Gaya bahasanya singkat pendek karena sasarannya orang-orang Arab yang pada umumnya sudah paham bahasa Arab.
c. Isi surah atau ayat Makiyah pada umumnya menyerukan tauhid yang murni, ketuhanan yang Maha Esa. (pure monotheisme).
d. Isi kandungannya tentang pembinaan mental serta akhlak.
e. Setiap surah yang terdapat ayat sajdah, yakni ayat yang perintah sujud tilawah.
f. Setiap surah yang terdapat lafal كَلاَّ kebanyakan pada surah-surah  akhir dari Al-Qur’an.
g. Surah-surah yang menyebutkan permulaan  )يَأَيٌّهَاآلنَّاسُwahai manusia) bukan: يَأَيُّهَاالَّذِينَءَامَنَوأ(wahai orang-orang beriman), kecuali pada akhir surah Al-Hajj menurut sebagian ulama.
h. Setiap surah yang didalamnya menceritakan kisah Nabi Adam dan iblis selain Al-Baqarah.
i. Setiap surah yang diawali huruf hijaiyah.

2.      Tanda-Tanda Ayat atau Surah Madaniyah
a. Surah atau ayat-ayatnya panjang-panjang.
b. Gaya bahasanya panjang dan lebih luas, karena sasarannya bukan orang Arab saja.
c. Setiap ayat yang dimulai dengan يَأَيُّهَاالَّذِينَءَامَنَوأ(wahai orang-orang beriman)
d. Isi kandungan pada umumnya berupa norma-norma hukum (ayat-ayat syari’ah).
e. Isi kandungan menjelaskan tentang ibadah, muamalah, hukum, dan lain-lain yang menyangkut kemasyarakatan dan kenegaraan.
f. Setiap Surah yang menyebutkan perilaku munafik selain Al-‘Ankabut.
g. Setiap Surah yang mengajak berdialog dengan ahli kitab.[6]



 Turunnya Al-Qur’an tersendiri jatuh pada malam Lailatul Qadar, yang disampaikan oleh makhluk langit yaitu Malaikat Allah untuk menghormati umat Nabi Muhammad yang dimuliakan Allah SWT.
Turunnya yang kedua kali berbeda dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, merupakan pengaruh dahsyat, dalam hal ini terjadi perdebatan sengit yang terjadi pada dua belah pihak. Sehingga pada hakikatnya orang-orang dapat mengetahui hikmah Illahi yang tersembunyi dibalik itu. Rasul mendapatkan risalah itu bukan hanya sekaligus. Wahyu diturunkan untuk mencekam ke dalam lubuk hati Nabi S.A.W. untuk menjadi hiburan baginya dengan cara berangsur-angsur.[7]
Wahyu Al-Qur’an diturunkan dalam 2 bentuk, yaitu sekaligus dan berangsur-angsur. Penurunan terjadi saat Al-Qur’an diletakkan oleh Allah SWT ke Lauh Mahfuzh. Kemudian, dari Lauh Mahfuzh, Allah SWT mengirimkannya ke Baitul ‘Izzah dengan bentuk sekaligus. Dari Baitul ‘Izzah ini, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril AS.[8]


Turunnya Al-Qur’an itu sekaligus dan berangsur-angsur

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS Al-Baqarah [2]: 5)
اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۚ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada suatu malam yang diberkahi. (QS Al-Qadr [97]: 1)

Maksud dari kalimat malam yang diberkahi dalam ayat diatas adalah malam Lailatul Qadar, di bulan Ramadhan. Al-Qur’an  itu diturunkan kepada Rasulullah selama 23 tahun. Dalam hal ini ada 2 mazhab yang berbeda pendapat.
a.   Mazhab pertama,  yaitu dikemukakan oleh Ibnu Abbas dan Jumhur, beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan turunnya ketiga ayat Al-Qur’an itu sekaligus ke Baitul ‘Izzah dari langit dunia, dan disambut oleh Malaikat. Sesudah itu baru diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Menurut kejadian-kejadian dan peristiwa  semenjak Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, Nabi berada di Mekkah selama 13 tahun, dan di Madinah selama 10 tahun. Menurut hadis dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah diutus dalam usia 40 tahun.

Hadis dari Ibnu Abbas RA : Al-Qur’an itu bukan turun sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar di sini selama 20 tahun.
Hadis dari Ibnu Abbas RA : Al-Qur’an itu dipisah dari Az-zikir lalu diletakkan ke Baitul Izzah dari langit dunia. dari sinilah Malaikat Jibril menurunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Hadis dari Ibnu Abbas RA : Al-Qur’an itu diturunkan sekaligus ke langit dunia, ditempat-tempat jatuhnya bintang. Allah yang menurunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur.
Hadis dari Ibnu Abbas RA : Al-Qur’an itu diturunkan pada malam Lailatul Qadar bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus. Diturunkan berangsur-angsur.

b.      Mazhab kedua, dikemukakan oleh Syu’biy, mula-mula turunnya Al-Qur’an itu pada bulan Ramadhan, pada malam Lailatul Qadar. Sesudah itu, turunnya berangsur-angsur dan berturut-turut, bila ada kejadian selama hampir 23 tahun. Al-Qur’an telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur, agar engkau membacakan perlahan-lahan kepada manusia, dan kami menurunkan sebagian demi sebagian.

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْـقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً   ۛ   كَذٰلِكَ     ۛ   لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُـؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا وَلَا يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ اِلَّا جِئْنٰكَ بِالْحَـقِّ وَاَحْسَنَ تَفْسِيْرًا    (٣٣-٣٢)

“Dan orang-orang kafir berkata, "Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” (QS Al-Furqan [25] : 32-33)

وَاعْلَمُوْۤا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَ لِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ  ۙ  اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَاۤ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ   ؕ  وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Anfal [8] :41).


Perang badar yang terjadi pada bulan Ramadhan merupakan permulaan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Hadis dari Aisyah mengatakan:

Mula-mula Rasulullah bermimpi shidiq diwaktu tidur, ia tidak pernah bermimpi seperti itu. Mimpi inilah yang mendorong Nabi SAW untuk bergegas ke gua Hira’. Boleh jadi, ini merupakan isyarat bawa Al-Qur’an akan segera diturunkan. Nabi mengasingkan diri di gua Hira’ dengan membawa persediaan makanan. sampai datang kepadanya kebenaran. Ketika Nabi SAW berada di dalam gua itu, datanglah malaikat kepadanya dan mengatakan. -Bacalah, Rasulullah menjawab, aku tidak pandai membaca. Nabi dirangkul untuk yang ketiga kalinya, setelah itu dilepaskan sambil berkata -Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan, sampai kepada ayat yang berbunyi –Apa yang tidak diketahuinya. Dalam usia 6 bulan, sudah turun wahyu kepada Rasulullah diwaktu bangun pada bulan Ramadhan.

c.       Adapula Mazhab ketiga, menurut mazhab ini Al-Qur’an itu turun kelangit dunia sebanyak 23 kali malam Lailatul Qadar. Di malam itu, pasti terjadi pada tiap-tiap tahun, pada malam itulah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah. Mazhab ini hanya berupa ijtihad tafsir tidak berdasarkan nash dari Al-Qur’an dan hadis.[9]


1.      Dari Allah SWT ke Lauh Mahfuzh

Pertama, Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke Lauh Mahfuz. Lauh Mahfuzh adalah suatu tempat catatan segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses pertama diisyartakan dalam
a.       Surat Al-Buruj [85] : 21-22
بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌ  ۙ فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ

Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga (Lauh Mahfuz).

b.      Surat Al-Waqi’ah [56] : 77-80
اِنَّهٗ لَـقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌ ۙ فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍ ۙ لَّا يَمَسُّهٗۤ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَ  ؕ تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ

“Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan seluruh alam.


2.      Dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah

a.       Surat Al-Qadar [97] : 
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”

b.      Surat Al-Baqarah [02] : 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ


“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”


c.       Surat Al-Dukhan [44] : 3

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.”[10]


3.      Dari Baitul ‘Izzah kepada Nabi Muhammad SAW
                                                 
a.       Surat Al- Syu’ara [26] : 193-195

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ
 عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
 بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.[11]

b.      Surat Al-Isra’ [17] : 106

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

"Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”


C.    Hikmah Al-Qur’an Turun secara Berangsur-angsur

1.      Memantapkan hati Nabi
Ketika menyampaikan dakwah, Nabi sering berhadapan dengan para penentang. Turunnya wahyu yang berangsur-angsur itu merupakan dorongan tersendiri bagi Nabi untuk terus menyampaikan dakwah.

2.      Menentang dan melemahkan para penenteng Al-Qur’an
Nabi sering berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan sulit yang dilontarkan orang-orang musyrik dengan tujuan melemahkan Nabi. Turunnya wahyu yang berangsur-angsur itu tidak saja menjawab pertanyaan itu, bahkan menentang
mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an. Dan ketika mereka tidak mampu memenuhi tantangan itu, hal itu sekaligus merupakan salah satu mukjizat Al-Qur’an.

3.      Al-Qur'an adalah ilmu
Al-Qur’an pertama kali turun ditengah-tengah masyarakat Arab yang ummi, yakni yang tidak memiliki pengetahuan tentang bacaan dan tulisan.

4.      Mengikuti setiap kejadian (yang karenanya ayat-ayat-ayat Al-Qur’an turun) dan melakukan penahapan dalam penetapan syari’at.

5.      Membuktikan dengan pasti bahwa Al-Qur’an turun dari Allah yang Mahabijaksana
Walaupun Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari secara keseluruhan, terdapat keserasian di antara satu bagian dengan bagian Al-Qur’an lainnya. Hal ini tentunya hanya dapat dilakukan Allah yang Mahabijaksana. [12]

6.      Mudah dipahami dan dihapal
Bagi bangsa yang buta huruf sulit dapat menghafal dan memahami sesuatu yang harus dipahami atau dihafal. Oleh karena itu diturunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur  menjadi mudah dihafal dan dipahami.[13]




KESIMPULAN

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril. Unsur ini memberikan batasan bahwa Al-Qur’an yang diterima Nabi Muhammad saw. itu tidak langsung dari Allah melainkan melalui malaikat Jibril.[14] Yang dimana, sebagai pacuan Nabi Muhammad untuk mengkokohkan pendirian menghadapi tekanan dari orang-orang kafir Quraisy. Untuk pedoman bagi umat manusia agar tidak melangkah ke jalan yang salah.
Al-Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan yang disebut malam Lailatul Qadar. 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi, sampai 9 Dzulhijjah Haji Wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10H. Dimana proses sangatlah berliku yang di hadapi oleh Nabi dalam turunnya Al-Qur’an.
Nabi muhammad  SAW, diakui oleh Allah sebagai yang paling mulia akhlaknya, dihormati Allah dan para Malaikat-Nya, terpercaya (al-amin), selalu jujur (shiddiq), terpercaya (amanah), transparan (tabligh), dan fathonah (cerdas). Dari segi tempat penyimpanannya Lauh al-Maffudz (Wadah yang terjaga), menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu autentik, bukan plagiasi maupun jiplakan. Murni bersifat ilmiah dari Allah yang diturunkan kepada malaikat Jibril untuk diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.[15]



DAFTAR PUSTAKA

Al-Aththar, Dawud. 1994. Ilmu Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Hidayah.
Anwar, Abu. 2002. Ulumul Qur’an. Pekanbaru: Amzah.
Anwar, Rosihon, 2017, Ulum Al-Qur’an. Bandung : Cv Pustaka Setia.
Ayyasy, MA. 2011. Hati-hati Al-Qur’an Anda Palsu. Jakarta Selatan : Qultum Media.
Aziz, Moh. Ali, 2018, Mengenal Tuntas Al-Qur’an,  Surabaya : Imtiyaz.
Ilyas, Yunahar. 2003. Tafsir Tematis Cakrawala Al-Qur’an. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Khon, AM. 2011. Praktikum Qira’at. Jakarta: Amzah
MKD, Tim. 2014. Studi Al-Qur’an, Surabaya: Uin Sunan Ampel Press.
Nata, Abuddin. 2018. Islam dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Prenadamedia Group.
Nurhasanah, Neneng, Hayatuddin, Amrullah, Yayat, RH. 2018. Metodologi Studi Islam: Jakarta.
Quthan, Mana’ul. 1993. Ilmu Al-Qur’an 1. Jakarta: Rineka Cipta.



[1] Neneng Nurhasanah, Amrullah Hayatuddin, Yayat Rahmat Hidayat, Metodologi Studi Islam, Jakarta, Amzah, 2018, Cetakan I, hal. 98.
[2] Mana’ul  Quthan, Ilmu Al-Qur’an 1, Jakarta, Rineka Cipta, 1993, Cetakan I, hal. 112
[3] Muhammad Abu Ayyasy, Hati-hati Al-Qur’an Anda Palsu, Jakarta Selatan, Qultum Media, 2011, Cetakan I, hal. 17.
[4] Yunahar Ilyas, Tafsir Tematis Cakrawala Al-Qur’an, Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, 2003, Cetakan I, hal. 11.
[5] Dawud Al-Aththar, Ilmu Al-Qur’an, Bandung, Pustaka Hidayah, 1994, Cetakan I, hal. 107.
[6] Abdul Majid Khon, Praktikum Qira’at, Jakarta, Amzah, 2011, Cetakan I, Hal. 19.
[7]Mana’ul  Quthan, Ilmu Al-Qur’an 1, Jakarta, Rineka Cipta, 1993, Cetakan I, hal. 112.
[8] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an, Surabaya, Imtiyaz, 2018, Cetakan IV, hal. 20.
[9] Mana’ul  Quthan, Ilmu Al-Qur’an 1, Jakarta, Rineka Cipta, 1993, Cetakan I, hal. 115.
[10] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Qur’an, Surabaya, Imtiyaz, 2018, Cetakan IV, hal. 20.
[11] Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an, Bandung, Cv Pustaka Setia, 2017, Cetakan VII, hal. 35.
[12] Muhammad Abu Ayyasy, Hati-hati Al-Qur’an Anda Palsu, Jakarta Selatan, Qultum Media, 2011, Cetakan I, hal. 18.
[13] Abu Anwar, Ulumul Qur’an, Pekanbaru, Amzah, 2002, Cetakan I, hal. 23.
[14] Tim penyusun MKD UIN SUNAN AMPEL, Studi Al-Qur’an, Surabaya, Uin Sunan Ampel Press, 2014, Cetakan I, hal. 7
 [15] Abuddin Nata, Islam dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta, Prenadamedia Group, 2018, Cetakan I,  hal.52.





nuzulul-qur’an

  PROSES TURUNNYA AL-QUR’AN Makalah Mata Kuliah Studi Al-Qur'an Do...